LAYANAN DARURAT COVID-19
112
0811 1211 2112
0813 8837 6955

Beranda > Artikel > Dinamika Kasus Covid-19 dengan Penambahan Kapasitas Tes PCR

Dinamika Kasus Covid-19 dengan Penambahan Kapasitas Tes PCR

Aditya Gagat Hanggara

08 Agustus 2020

Masih merebaknya pandemi Covid-19 menuntut pemerintah di berbagai negara untuk bergerak cepat dan responsif dalam melakukan tindakan pencegahan maupun penanggulangan. Tidak terkecuali Indonesia dan khususnya Jakarta. Dalam menghadapi pandemi yang telah merambah hampir seluruh penjuru dunia ini,  Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah menerapkan tiga strategi utama, yakni tes, lacak, dan isolasi. 

Tes merupakan salah satu langkah awal yang dilakukan pemerintah untuk menjaring warga-warga yang terindikasi Covid-19 melalui serangkaian pemeriksaan atau pengujian. Selain itu, tes juga menjadi jendela dalam mengetahui situasi terkini terkait penularan di sekitar masyarakat. Sederhananya, tanpa ada testing, maka tidak akan ada data. Jika suatu daerah tidak dibekali dengan data yang dapat diandalkan, maka wilayah tersebut dipastikan tidak akan mampu menerapkan langkah-langkah yang tepat untuk memutus rantai penyebaran sebuah pandemi. 

Dengan alasan tersebut, Pemprov DKI Jakarta mengambil kebijakan tes yang lebih agresif untuk menemukan sebanyak-banyaknya pasien positif, sehingga dapat segera diisolasi untuk mencegah penularan yang lebih luas. Tindakan ini juga merupakan wujud upaya pengendalian yang sejalan dengan peningkatan aktivitas masyarakat di tengah pemberlakuan PSBB Transisi. 

Menilik Mekanisme Tes Korona

Sejak awal pandemi Covid-19, Pemprov DKI Jakarta selalu menegakkan prinsip keterbukaan data kepada masyarakat. Jadi, jika Smartcitizen ingin memantau progres kebijakan testing yang saat ini tengah digiatkan pemerintah, kamu bisa mengunjungi laman data pemantauan yang berada di website corona.jakarta.go.id. Di dalamnya, kamu akan menemukan data-data interaktif mengenai jumlah tes yang telah dilaksanakan di Jakarta sejak awal 2020 hingga sekarang.

Saat kamu membaca data testing, sebagian dari kamu mungkin bertanya, apa perbedaan antara rapid diagnostic test dan tes PCR? Nah, seperti yang dijelaskan oleh badan kesehatan dunia WHO, rapid test atau tes cepat adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mendeteksi kereaktifan  antibodi  di  dalam  darah  seseorang  yang  terindikasi  Covid-19. Namun, mengingat adanya kemungkinan reaksi silang (cross-reaction) dengan patogen-patogen dari virus korona lain, hasil reaktif yang bisa didapat dalam hitungan menit itu belum tentu menunjukkan bahwa orang tersebut telah terpapar virus Covid-19. Maka, untuk hasil tes yang lebih akurat, mereka yang dinyatakan reaktif saat tes cepat akan dirujuk untuk melakukan tes PCR (Polymerase Chain Reaction).

Tes PCR, atau yang juga biasa disebut sebagai tes swab, dilakukan dengan cara mengusap cairan pada bagian hidung atau tenggorokan untuk mendeteksi keberadaan material genetik yang terkandung di dalam virus.  Lalu, mengapa data situs korona menampilkan dua jenis data tes PCR yang berbeda, orang baru dan spesimen? Ya, hal ini dikarenakan satu individu yang sama bisa memberikan lebih dari satu sampel atau spesimen untuk diperiksa di laboratorium. Itulah mengapa jumlah spesimen yang diperiksa saat tes PCR menjadi lebih banyak dibandingkan data jumlah orang yang menjalani tes PCR.

Di Balik Penambahan Jumlah Pasien Baru

Smartcitizen, jika kamu rajin mengikuti perkembangan kasus positif Covid-19 di Jakarta, pastinya kamu juga memperhatikan penambahan jumlah pasien baru yang cukup tinggi akhir-akhir ini. Sebagian dari kamu mungkin merasa khawatir ketika melihat laporan tersebut. Itu boleh-boleh saja karena memang kita harus tetap menjaga kewaspadaan selama pandemi masih melanda Ibu Kota. Tapi nggak perlu panik berlebih, ya. Karena di balik penambahan kasus tersebut, ada upaya testing masif yang saat ini terus digalakkan oleh pemerintah. Langkah ini rutin dijalankan agar pasien positif, terutama yang tidak menunjukkan gejala dan beraktivitas di luar, dapat segera terdeteksi dan kemudian diisolasi supaya tidak menularkan virus kepada orang lain. 

Bicara mengenai upaya testing, WHO telah menetapkan batas minimal 1 tes untuk setiap 1.000 penduduk per satu pekan sebagai salah satu tolak ukur dalam pengendalian pandemi. Itu berarti, dengan populasi Jakarta yang berjumlah lebih dari 10 juta penduduk, maka Jakarta diharuskan untuk melakukan lebih dari 10.000 tes setiap minggu. Nah, kabar baiknya, usaha-usaha Pemprov DKI Jakarta dalam menjalankan tes massal telah membuahkan hasil, dengan jumlah tes selama sepekan terakhir konsisten di kisaran 40.000 tes atau empat kali lipat dari standar dunia.

“Jakarta dengan hampir 11 juta penduduk, berdasarkan standar WHO harus melakukan pemeriksaan PCR minimum pada 10.645 orang (bukan spesimen) per minggu, sementara testing PCR DKI Jakarta dalam seminggu terakhir (31/7) sudah mencapai 43.500 orang,” ungkap Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan setelah berkunjung ke Laboratorium Kesehatan Daerah milik Pemprov DKI Jakarta, untuk melihat langsung proses pengujian sampel Covid-19 pada akhir Juli 2020 lalu.

Merinci Sebaran Kasus di Ibu Kota

Upaya testing besar-besaran yang saat ini diterapkan pemerintah tentunya tidak dilakukan secara acak atau bahkan asal. Untuk mencari titik-titik kasus positif yang baru di sekitar wilayah Jakarta, maka dibutuhkan metode-metode pengetesan yang terukur seperti active case finding (ACF) dan contact tracing atau pelacakan fisik. Program ACF sebenarnya sudah berjalan sejak pertengahan Mei 2020. Cara ini memungkinkan Pemprov untuk melakukan strategi ‘jemput bola’ di tempat-tempat keramaian yang diprioritaskan, seperti pasar dan gedung perkantoran. Langkah ini jelas jauh lebih baik ketimbang berdiam diri menunggu datangnya pasien baru. Nah, ketika kasus baru ditemukan, metode ini kemudian dikombinasikan dengan program tracing untuk dilakukan penelusuran kontak di lingkungan tempat tinggal, tempat aktivitas, dan tempat kerja dari pasien baru tersebut. 

Melalui kedua metode tersebut, Pemprov DKI Jakarta mampu menjelaskan sebaran kasus secara rinci kepada masyarakat. Contohnya seperti yang dilakukan pada 21 Juli lalu. Waktu itu, Jakarta mencatat 441 penambahan kasus. Puskesmas melaporkan, 167 di antaranya ditemukan berdasarkan hasil active case finding (137 kasus) dan contact tracing (37 kasus). Dari sini, Smartcitizen bisa melihat bagaimana metode yang efektif bisa membantu upaya pemerintah dalam melakukan pengetesan yang tepat sasaran.

Mudah-mudahan informasi di atas sudah bisa mencerahkan kamu tentang perkembangan kasus Covid-19 selama masa transisi ini. Tetap ingat ya, Smartcitizen, meski kamu sudah bisa melakukan kegiatan yang diizinkan pemerintah, selalu usahakan untuk tetap di rumah. Apalagi jika tidak ada keperluan mendesak. Taati protokol kesehatan seperti selalu memakai masker saat berada di luar, jaga jarak dengan orang lain, serta sering mencuci tangan dengan air dan sabun. Untuk informasi terkini tentang penyebaran pandemi, selain mengunjungi situs resmi korona, kamu juga bisa mengakses fitur JakCorona di aplikasi kesayangan kita, JAKI.

Data Covid-19
Featured

Bagikan :


Penulis

Aditya Gagat Hanggara

Aditya Gagat adalah lulusan Teknik Informatika dari Binus University yang saat ini menjadi salah satu Content Writer di Jakarta Smart City. Gemar mengamati isu transportasi, olahraga, teknologi dan sains, ia memulai karier Jurnalistik bersama media internasional Motorsport.com pada 2016-2019. Saat ini ia terfokus pada topik kesehatan, khususnya mengenai penanggulangan pandemi Covid-19 di wilayah DKI Jakarta.

Artikel Terkait

JSC Talks Vol.5: Digitalisasi Pembelajaran melalui Aplikasi Sekolah.mu

16 Juni 2020

Belajar Bersama Jakarta: Fasilitasi Riset Covid-19 di Jakarta

09 Juli 2020

Selalu Siaga Pandemi COVID-19 bersama JAKI

07 April 2020

Sehari Bersama JAKI: Teman Aktivitas di Jakarta Kala Pandemi

25 Juni 2020

Punya Tampilan Baru, Begini Cara Baca Data di corona.jakarta.go.id

10 Agustus 2020