LAYANAN DARURAT COVID-19
112
0811 1211 2112
0813 8837 6955

Beranda > Artikel > Seminar Future Cities Vol. 3: Membedah Kerangka Kerja KSBB

Seminar Future Cities Vol. 3: Membedah Kerangka Kerja KSBB

Teresa Simorangkir

21 Mei 2021

Interaksi-interaksi yang terjadi di wilayah Jakarta menjadi salah satu sumber pendapatan di ibu kota. Oleh karena itu, saat dunia dilanda pandemi dan Jakarta mulai melakukan restriksi aktivitas warganya, perputaran ekonomi langsung tersendat. Warga yang sebelumnya bisa memenuhi kebutuhan hidupnya, harus putar otak untuk bertahan dalam kondisi tak stabil yang belum berkesudahan. Melihat masalah ini, kolaborasi dianggap sebagai salah satu cara untuk membantu warga dari keterbatasan yang merongrong mereka. Lewat Seminar Future Cities Volume 3 yang diadakan Jakarta Smart City pada 20 Mei 2021, yuk, kita cari tahu sejauh mana kerangka kerja Kolaborasi Sosial Berskala Besar (KSBB) efektif dalam menghadapi krisis ekonomi pada masa pandemi Covid-19.

KSBB: Jembatan Antara Donatur dan Warga yang Membutuhkan

KSBB hadir untuk menolong warga Jakarta yang membutuhkan bantuan pada masa pandemi. KSBB bergerak pertama kali pada 2020 sebagai langkah konkret Pemprov DKI untuk membantu warga dari keterbatasan yang merongrong mereka pada masa sulit ini. Kolaborasi menjadi jalan yang bisa ditempuh, sebab pandemi tak mungkin dihadapi oleh satu pihak saja. Untuk itulah, Pemprov DKI Jakarta melalui Jakarta Development Collaboration Network (JDCN), melahirkan program KSBB.

“KSBB menjadi wadah untuk mempertemukan kedua belah pihak: donatur (kolaborator) yang ingin berpartisipasi untuk membantu sesama dan pihak yang membutuhkan bantuan. Konsepnya adalah dari warga untuk warga. KSBB diharapkan bisa membantu pengelolaan distribusi bantuan untuk warga Jakarta,” ucap M. Rizqy Anandhika, Policy Specialist dari JDCN. Rizqy menambahkan, KSBB bisa terwujud karena adanya potensi yang memperkuat kolaborasi. Potensi ini hadir dari pemerintah, seperti Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil serta Dinas Kesehatan, sebagai otoritas yang berwenang memegang data. Pemerintah dapat menggunakan data yang mereka pegang untuk meregulasi program KSBB, seperti menganalisis kebutuhan yang harus dipenuhi, menentukan target penerima bantuan, serta memfasilitasi dan memastikan bantuan tersalur dengan tepat.

Hingga sekarang, ada lima program KSBB yang berjalan, yakni KSBB Pangan, KSBB Pendidikan, KSBB UMKM, KSBB Penataan Permukiman, dan KSBB Persampahan.

[Program KSBB: Kolaborasi Bantu Warga Jakarta Kala Pandemi]

Memahami Kerangka Kerja KSBB

Kerangka kerja KSBB

Bantuan yang terhimpun lewat KSBB menjadi penggerak utama keseluruhan sistem ini. Donasi dikumpulkan dari individu maupun institusi seperti Ziswaf, CSR (Corporate Social Responsibility), maupun organisasi internasional. Bantuan tidak dikumpulkan lewat pemerintah, melainkan lewat lembaga-lembaga kemanusiaan (aggregator) seperti Palang Merah Indonesia, Baznas DKI Jakarta, atau Human Initiative, yang telah mendapat lisensi dari Kementerian Sosial, sehingga bisa dipercaya untuk mendistribusikan bantuan kepada warga. Dalam kerangka kerja KSBB, peran pemerintah berada di tengah-tengah antara aggregator dan executor. Pemerintah bertindak sebagai asesor untuk menentukan jenis-jenis bantuan yang akan disalurkan, menetapkan siapa saja yang menerima bantuan (contoh: 1.000 paket makanan dari kolaborator untuk RW 03). Untuk menjadi kolaborator, calon kolaborator bisa berdonasi melalui corona.jakarta.go.id/id/platform-ksbb.

Hasil KSBB

Diagram hasil KSBB

Pendistribusian KSBB bisa dilihat lewat diagram di atas. Bila dipetakan berdasarkan kota administratif/kabupaten penerima bantuan, sebanyak 32% bantuan KSBB disalurkan ke Jakarta Selatan, 21% ke Jakarta Timur, 16% ke Jakarta Utara, 15% ke Jakarta Pusat, 14% ke Jakarta Barat, dan 2% ke Kepulauan Seribu.

Kita juga bisa melihat persentase donatur yang berkontribusi dalam KSBB. 51% donasi datang dari organisasi sosial, 31% dari badan usaha, 9% dari pribadi, 5% dari komunitas, serta 4% dari lembaga pemerintahan.

Donasi kemudian disalurkan kepada warga yang menjadi target penerima bantuan. 85% diberikan ke RW-RW yang ada di Jakarta, sementara 15% sisanya disalurkan ke panti asuhan, pesantren, panti jompo, dan yayasan disabilitas. Sedangkan jenis donasi 90% berupa makanan pokok dan 10% sisanya makanan cepat saji serta bingkisan Lebaran.

Rizqy melaporkan, per 17 Juli 2020, sebanyak Rp 15 miliar bantuan berhasil terhimpun lewat KSBB. Donasi dari suatu wilayah biasanya diberikan ke lokasi yang sama. Contohnya, donasi berasal dari warga berkecukupan yang ingin membantu sekitarnya, atau korporat yang memberikan sumbangan kepada komunitas sekitar sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility).

Untuk memantau statistik distribusi bantuan, kita bisa mengaksesnya lewat corona.jakarta.go.id/id/platform-ksbb. Akuntabilitas distribusi bantuan dapat dipertanggungjawabkan, karena Pemprov DKI Jakarta bersama kelurahan setempat turut mengawal proses distribusi hingga bantuan sampai ke tingkat RW. Proses serah terima akan didokumentasikan lewat berita acara, jadi ada laporan yang bisa dipertanggungjawabkan. Bagi yang berkolaborasi di platform KSBB pun diberikan wadah pelaporan, apabila ada penyalahgunaan bantuan atau masalah lain. Kolaborator dapat pula menyampaikan laporannya melalui aplikasi JAKI (Jakarta Kini) lewat fitur JakLapor.

Menurut Rizqy, walaupun KSBB terkesan sederhana, masih ada kendala-kendala dalam eksekusinya. Karena itu, ada beberapa langkah yang masih harus ditempuh agar program ini berjalan lancar. Misalnya, mandat yang jelas dari institusi dan instruksi yang mengikat, sehingga program ini tidak sekadar sukarela. Selain itu, kolaborasi antara Pemprov DKI Jakarta dan pemerintah pusat juga harus terus dikembangkan, sehingga sistem KSBB tak hanya terpaku pada satu model. Sistem KSBB di Jakarta pun diharapkan dapat diikuti daerah-daerah lain di Indonesia.

Program Kolaborasi Pemerintah di Masa Depan

Saat ini Jakarta memang sedang menggencarkan kolaborasi antara pemerintah dan warganya. Ada beberapa program yang masih diramu agar bisa dijalankan di masa depan. Sebut saja KSBB Seni Budaya yang diharapkan bisa memfasilitasi seniman yang terdampak pandemi. Lalu ada juga KSBB urban farming yang diharapkan bisa merespons animo masyarakat di bidang perikanan, peternakan, dan pertanian kota.

JDCN juga siap menampung ide-ide dari masyarakat lewat JDCN Forum. JDCN Forum merupakan wadah untuk bertukar pikiran dan memberi kesempatan bagi warga Jakarta untuk menyuarakan ide-ide yang tepat dalam memecahkan berbagai persoalan pada masa pandemi Covid-19. Acara ini sudah berlangsung pada 2020 lalu dan rencananya akan digelar lagi tahun ini.

Demikian rangkuman Seminar Future Cities Vol. 3 kali ini. Kalau kamu penasaran dengan program KSBB Jakarta, tinggal kunjungi corona.jakarta.go.id/id/platform-ksbb dan silakan eksplorasi fitur-fitur yang ada, atau bisa juga kunjungi JDCN di jdcn.jakarta.go.id. Oh, ya, biar enggak ketinggalan acara-acara lain dari Jakarta Smart City, jangan lupa follow @jsclab di Facebook, Instagram, dan Twitter, ya! Salam kolaborasi!

Kolaborasi

Bagikan :


Penulis

Teresa Simorangkir

A writer and a lifelong learner.

Artikel Terkait

Mengingat Kembali Langkah Pencegahan Covid-19

05 Mei 2021

JakCLM: Tetap Sehat Meski Belajar dari Rumah

17 Juli 2020

KSBB UMKM: Bantu UMKM Jakarta Bersama Jakpreneur

27 Mei 2021

Tanggap Corona: Dinkes DKI Jakarta Punya Posko Covid-19 di Command Center

16 Maret 2020

Cari Tahu Tiga Level Risiko Hasil Tes CLM

28 Juli 2020