LAYANAN DARURAT COVID-19
112
0813 8837 6955

Beranda > Artikel > Cara Memilih Vaksin Booster yang Tepat!

Cara Memilih Vaksin Booster yang Tepat!

Syora Alya Eka Putri

03 Februari 2022

Smartcitizen, kalian harus tahu nih kalau vaksinasi booster sudah bisa dilakukan, lho! Kementerian Kesehatan RI telah menetapkan, sejak 12 Januari 2022, vaksin booster dapat diberikan secara gratis dan bertahap kepada masyarakat, termasuk di Jakarta. Hal ini sebagai upaya pemerintah dalam melindungi warga dari ancaman kasus varian Covid-19. Untuk mengikuti vaksinasi booster ini ada yang menggunakan vaksin berbeda dengan vaksin utamanya, tapi ada pula yang sama. Nah, sebelum kamu mengikuti vaksinasi booster, kamu perlu tahu jenis vaksin apa yang digunakan beserta dengan ketentuannya. Baca artikel ini sampai habis, ya!

Memilih Jenis Vaksin Booster

Untuk mendapatkan vaksin booster, kamu harus memenuhi beberapa syarat, yaitu memiliki KTP Indonesia, dengan prioritas lansia dan penderita masalah kekebalan tubuh, berusia 18 tahun ke atas, telah melakukan vaksinasi dosis 1 dan 2, serta minimal enam bulan setelah penyuntikan dosis kedua. Pemerintah telah menyediakan berbagai jenis vaksin yang dijadikan sebagai booster, sesuai pertimbangan hasil riset para ahli. Nah, sama halnya dengan memilih pasangan, kamu pun juga enggak boleh sembarangan dalam memilih vaksin. Sebab, ada ketentuan yang telah ditetapkan Kementerian Kesehatan untuk memilih vaksin booster, sebagai berikut.

  • Jika kamu mendapat vaksin primer (dosis 1 dan 2) Sinovac, maka kamu akan mendapatkan setengah dosis booster vaksin Pfizer atau AstraZeneca.
  • Jika kamu mendapat vaksin primer AstraZeneca, maka kamu akan mendapatkan setengah dosis booster vaksin Moderna.

Perbedaan jenis vaksin booster dengan dosis 1 dan 2 ini mengacu pada kombinasi vaksin yang dianjurkan Badan Kesehatan Dunia (WHO). Vaksin AstraZeneca, Moderna, dan Pfizer merupakan jenis vaksin yang direkomendasikan sebagai booster. Ketiga vaksin ini cukup efektif untuk meningkatkan antibodi dan berpotensi melindungi diri dari varian Omicron. Tetapi, jenis vaksin ini enggak bisa digunakan buat semua orang. Ada kriterianya sesuai dengan kondisi kesehatannya, seperti di bawah ini.

  • Vaksin AstraZeneca hanya boleh digunakan untuk usia 18 tahun ke atas, tidak memiliki riwayat penyakit pembekuan darah, tidak memiliki alergi dari vaksin sebelumnya, bukan ibu hamil, dan jika ada penyakit komorbid disarankan berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.
  • Vaksin Pfizer boleh digunakan untuk orang usia 16 tahun ke atas, tidak memiliki alergi berat, bisa digunakan bagi ibu hamil di atas 12 minggu, serta yang memiliki penyakit komorbid.
  • Vaksin Moderna boleh digunakan untuk orang usia 18 tahun ke atas, dan diprioritaskan buat kelompok orang yang memiliki penyakit komorbid dan autoimun.

Jadi, dengan membaca ketentuan tersebut, kamu bisa memilih vaksin yang tepat sesuai kondisi kesehatan kamu. Hmm, tapi kenapa ya vaksin booster ini hanya setengah dosis saja?

Setengah Dosis Bisa Tingkatkan Antibodi

Pemberian dosis setengah ini merujuk pada hasil penelitian yang dilakukan untuk mengurangi dampak Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang lebih ringan. Namun, tak perlu khawatir. Meskipun dosisnya hanya setengah, vaksin booster ini memiliki peningkatan level antibodi yang relatif sama dengan vaksin dosis penuh.

Setiap jenis vaksin dapat memiliki efek KIPI yang berbeda pada setiap orang. Ada yang mengalami KIPI, tapi ada juga yang tidak. Gejala KIPI umumnya seperti mengalami nyeri pada otot, mual, sakit kepala, bahkan demam. Seperti Naura dan Tasya, dua pekerja di Jakarta yang mengalami gejala yang sama usai vaksin booster dengan vaksin Pfizer. Keduanya mengaku mengalami demam satu hari usai vaksinasi. Adapun pengalaman Nana, juga warga yang beraktivitas di Jakarta, berbeda dengan Tasya dan Naura. “Pengalaman aku divaksin booster ini sangat berbeda dengan vaksinasi dosis 1 dan 2. Sebelumnya, aku divaksin Sinovac dan efeknya jadi sering lapar dan mengantuk. Tapi, efek vaksinasi booster AstraZeneca ini, aku malah jadi kurang nafsu makan, lemas, dan mengantuk terus,” ujar Nana.

Namun, kamu enggak perlu cemas. Jika mengalami KIPI usai divaksin, ada beberapa cara yang bisa kamu lakukan, seperti berikut ini.

  • Tetap tenang jika alami reaksi KIPI.
  • Jika alami kondisi nyeri dekat area suntikan, bisa dikompres dengan air dingin.
  • Perbanyak minum air putih dan istirahat.
  • Bisa juga minum obat yang telah dianjurkan oleh petugas kesehatan.
  • Bisa juga melapor kepada petugas kesehatan jika mengalami reaksi yang lebih berat usai vaksinasi.

Nah, sekarang kamu jadi lebih paham kan tentang vaksin-vaksin yang digunakan dalam vaksinasi booster ini? Dengan mengikuti vaksinasi booster, kamu telah berpartisipasi dalam upaya mengurangi tingkat penyebaran Covid-19, termasuk varian Omicron. Jadi, tunggu apalagi? Buat kamu yang sudah punya tiket untuk vaksinasi booster, yuk segera daftarkan dirimu! Caranya gampang kok, karena sudah bisa dilakukan melalui aplikasi JAKI. Unduh aplikasinya melalui Google Play Store atau Apple Apps Store.

Vaksinasi Covid-19
Tips

Bagikan :


Penulis

Syora Alya Eka Putri

Seorang content writer di Jakarta Smart City yang sedang menempuh pendidikan Magister Kebijakan Pembangunan Sosial di Universitas Indonesia.

Artikel Terkait

Contact Tracing dan Check-Point Monitoring: Apa dan Bagaimana Cara Kerjanya?

25 September 2020

Program KSBB: Kolaborasi Bantu Warga Jakarta Kala Pandemi

21 Mei 2021

Keamanan Covid-19 di Perkantoran: Cara Mencegah Penyebaran Virus Antar Karyawan

03 September 2020

Jakarta X Harvard CLM Team: Kolaborasi Ciptakan Cek Mandiri COVID-19

03 Juni 2020

Inilah Tahapan Vaksinasi Covid-19 di Jakarta

16 Maret 2021